LintasPonsel.com – Xiaomi akan memasang aplikasi dompet kripto secara otomatis di ponsel barunya mulai tahun depan.
Aplikasi ini berasal dari kerja sama Xiaomi dengan Sei Labs.
Xiaomi akan menjual ponsel tersebut di luar Tiongkok daratan dan Amerika Serikat.
Pengguna akan langsung menemukan aplikasi dompet kripto saat membuka ponsel baru.
Bagi sebagian orang, langkah ini terlihat inovatif.
Namun, bagi pengguna lain, aplikasi ini terasa seperti bloatware baru.
“Baca Juga: 10 HP Infinix Murah Terbaik untuk Gaming Desember 2025“
Xiaomi Miliki Dampak Besar di Pasar Global
Xiaomi menempati posisi ketiga penjualan smartphone global setelah Apple dan Samsung.
Perusahaan ini menguasai lebih dari 13 persen pasar dunia.
Xiaomi menjual sekitar 160 juta ponsel setiap tahun.
Karena itu, keputusan ini berdampak besar bagi jutaan pengguna.
Xiaomi memiliki basis pengguna kuat di negara berkembang.
Langkah ini berpotensi mengenalkan kripto ke audiens yang sangat luas.
Sei Labs Ingin Dorong Akses Blockchain
Sei Labs mengembangkan blockchain yang fokus pada perdagangan aset digital.
Aplikasi ini berfungsi sebagai dompet kripto dan pintu masuk layanan Web3.
Pengguna dapat mengirim pembayaran antarindividu melalui aplikasi tersebut.
Pengguna juga dapat mengakses aplikasi berbasis blockchain tanpa unduhan tambahan.
Sei Labs bahkan merencanakan pembayaran stablecoin di toko Xiaomi.
Rencana ini mencakup lebih dari 20.000 gerai ritel global.
Program ini akan dimulai dari Hong Kong dan beberapa negara Uni Eropa.
Kekhawatiran Pengguna Soal Aplikasi Bawaan
Banyak pengguna mengeluhkan aplikasi bawaan yang tidak mereka butuhkan.
Praktik ini dikenal luas sebagai bloatware.
Xiaomi pernah mendapat kritik karena terlalu banyak aplikasi bawaan.
Perusahaan sempat memperbaiki kebijakan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Karena itu, langkah ini memunculkan anggapan sebagai kemunduran.
Tidak semua pengguna ponsel memahami atau tertarik pada kripto.
Dampak Regulasi di Berbagai Negara
Xiaomi memiliki pangsa pasar besar di India dan Eropa.
Di India, Xiaomi menguasai sekitar 24 persen pasar smartphone.
Negara tersebut memiliki aturan ketat terkait aset kripto.
Langkah Xiaomi berpotensi menarik perhatian regulator setempat.
Xiaomi mengecualikan pasar Tiongkok dan Amerika Serikat.
Keputusan ini berkaitan dengan aturan ketat dan risiko hukum.
Nilai Tambah atau Beban Baru bagi Pengguna
Perdebatan muncul soal batas antara fitur dan gangguan.
Dompet kripto memiliki risiko dan tingkat kompleksitas lebih tinggi.
Pengguna perlu memahami keamanan dan fluktuasi aset digital.
Tanpa edukasi, aplikasi ini dapat membingungkan pengguna awam.
Banyak pihak mempertanyakan alasan pemasangan wajib aplikasi ini.
Pilihan unduhan manual dinilai lebih menghormati pengguna.
Faktor Bisnis di Balik Keputusan Xiaomi
Kemitraan aplikasi sering melibatkan insentif finansial bagi produsen.
Setiap instalasi aplikasi memiliki nilai ekonomi.
Xiaomi terus mencari sumber pendapatan di luar penjualan perangkat.
Langkah ini mencerminkan strategi bisnis jangka panjang perusahaan.
Namun, keputusan ini juga berisiko mengganggu pengalaman pengguna.
Xiaomi Pasang Dompet Kripto: Apa yang Bisa Dilakukan Pengguna
Pengguna Xiaomi kemungkinan masih bisa menghapus aplikasi tersebut.
Namun, proses penghapusan tidak selalu sederhana.
Pengguna perlu lebih kritis saat membeli perangkat baru.
Ruang penyimpanan ponsel tetap menjadi aset berharga.
Pada akhirnya, pengguna berhak memilih aplikasi di perangkat mereka.
Masa depan digital seharusnya hadir sebagai pilihan, bukan paksaan.
“Baca Juga: Update HyperOS 3.0.5.0 Tingkatkan Kamera Xiaomi 15“










