LintasPonsel.com – Industri smartphone mulai memasuki fase baru dalam pengembangan baterai.
Perubahan ini tidak hanya berasal dari inovasi teknologi.
Regulasi baru juga mendorong produsen mengubah desain perangkat.
Uni Eropa, teknologi baterai silicon-carbon, dan riset baterai solid-state menjadi tiga faktor utama.
Ketiganya diperkirakan akan memengaruhi cara produsen membuat smartphone dalam beberapa tahun ke depan.
Selain itu, pengguna juga berpotensi menikmati daya tahan baterai yang lebih lama.
“Baca Juga: J-Hope BTS Tak Sengaja Bocorkan Desain Galaxy Z Fold 8
Uni Eropa Dorong Baterai yang Mudah Diganti
Uni Eropa akan memberlakukan aturan Right to Repair pada 31 Juli 2026.
Aturan tersebut mengharuskan produsen merancang perangkat yang lebih mudah diperbaiki.
Pengguna nantinya dapat membuka beberapa komponen dengan peralatan sederhana.
Regulasi ini juga membatasi penggunaan lem perekat yang menyulitkan proses perbaikan.
Selanjutnya, Uni Eropa berencana menerapkan aturan baru pada 2027.
Aturan tersebut mewajibkan produsen menyediakan baterai yang bisa diganti langsung oleh pengguna.
Melalui kebijakan itu, pengguna dapat membeli baterai baru dan memasangnya sendiri.
Namun, aturan tersebut tetap memberikan pengecualian bagi perangkat tangguh atau rugged.
Produsen dapat mengajukan pengecualian jika perangkat membutuhkan perlindungan ekstra terhadap air dan debu.
Karena itu, sebagian pengamat menilai beberapa produsen mungkin memanfaatkan celah tersebut.
Baterai Silicon-Carbon Hadir dengan Kapasitas Lebih Besar
Selain regulasi, teknologi baterai juga berkembang dengan cepat.
Produsen seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo mulai menggunakan baterai silicon-carbon.
Teknologi ini mampu menyimpan energi lebih banyak dibandingkan baterai lithium-ion biasa.
Hasilnya, produsen dapat menghadirkan smartphone dengan baterai 6.000 mAh hingga 8.000 mAh.
Pada awal pengembangannya, baterai silicon-carbon menghadapi masalah pemuaian saat pengisian daya.
Namun, para pengembang berhasil mengurangi risiko tersebut melalui berbagai inovasi material.
Karena itu, teknologi ini kini semakin siap digunakan secara luas.
Dari sisi ketahanan, baterai silicon-carbon juga menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Kapasitas baterai umumnya masih bertahan sekitar 80 persen setelah lebih dari 1.200 kali pengisian.
Beberapa pengguna bahkan melaporkan penurunan kapasitas yang sangat kecil setelah sekitar dua tahun pemakaian.
Apple dan Samsung Masih Menunggu Waktu yang Tepat
Apple dan Samsung hingga kini belum mengadopsi baterai silicon-carbon.
Salah satu penyebabnya berasal dari rantai pasokan yang sangat besar.
Perusahaan berskala global membutuhkan waktu lebih lama untuk mengadopsi teknologi baru.
Meski demikian, banyak pengamat memperkirakan kedua perusahaan akhirnya akan mengikuti tren tersebut.
Baterai Solid-State Masih Membutuhkan Pengembangan
Baterai solid-state menawarkan potensi yang sangat besar.
Teknologi ini menjanjikan kapasitas lebih tinggi dan tingkat keamanan yang lebih baik.
Selain itu, baterai tersebut berpotensi bertahan selama ribuan siklus pengisian.
Namun, produsen masih menghadapi berbagai tantangan produksi.
Para peneliti masih mencari solusi agar baterai dapat diproduksi secara stabil dan efisien.
Karena itu, teknologi solid-state belum siap digunakan secara massal dalam waktu dekat.
Teknologi Baterai Smartphone: Konsumen Berpeluang Mendapat Smartphone Lebih Tahan Lama
Perkembangan baterai membawa harapan baru bagi pengguna smartphone.
Kapasitas yang lebih besar dapat memperpanjang waktu penggunaan dalam satu kali pengisian.
Namun, kapasitas besar saja tidak cukup.
Produsen juga harus mengoptimalkan perangkat lunak agar konsumsi daya tetap efisien.
Jika optimasi berjalan baik, smartphone masa depan dapat bertahan hingga beberapa hari tanpa pengisian ulang.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa industri smartphone sedang memasuki era baru yang berfokus pada daya tahan baterai sekaligus kemudahan perbaikan perangkat.
“Baca Juga: Galaxy Watch 9 Andalkan Fitur Kesehatan Lebih Cerdas“











